KERETA EKONOMI (TERKESIMA)
Setelah ratusan kali naik kereta, baru tadi pagi untuk pertama kalinya aku merasa norak karena berada di dalamnya. Norak karena terkesima dengan seseorang yang duduk di bangku penumpang. Penumpang itu bukanlah artis ataupun Menteri BUMN kita yang baru, Dahlan Iskan, yang beberapa waktu lalu sempat menjadi buah bibir di media massa karena pilihannya untuk ikut berdesak-desakan di sebuah kereta ekonomi. Penumpang yang membuatku terkesima itu hanyalah seorang biksu.
Ya, biksu. Botak, dan ada dua.
—
Hmmm. Sebenernya sih ga botak plontos. Mungkin lebih tepatnya cepak. Karena mereka berdua masih memiliki rambut yang berwarna putih cenderung keabu-abuan. Mereka memakai pakaian khas biksu berwarna kuning pucat. Dengan raut wajah khas tionghoa yang dimiliki, itu malah membuat mereka semakin terlihat lucu bagiku. Apalagi mereka memilih untuk menaiki kereta ekonomi, sehingga tercipta sudah sebuah perpaduan yang serasi antara kesederhanaan dan ketenangan dari seorang biksu, dengan kereta ekonomi yang suasananya sangat merakyat.
Kebetulan pagi tadi kereta ekonomi yang kami tumpangi juga masih sangat lenggang, sehingga para penumpang bisa melihat potret kehidupan di sepanjang rel kereta Jakarta—Bogor, yang terlihat pada pukul setengah tujuh pagi melalui jendela dan pintu yang terbuka dengan lebar karena di kereta ekonomi ini memang tidak memiliki pendingin udara. Kecuali oleh kipas yang kadang berputar dan kadang tidak, serta oleh angin yang telah bercampur dengan debu.
Berselang beberapa saat. Salah seorang dari mereka menyilangkan kakinya. Secara reflek mataku pun akhirnya memerhatikan sepatu yang mereka pakai. Sepatu mereka berbahan canvas tanpa corak, yang mana terlihat cukup stylish dan juga simple. Seperti sepatu khas TOMS aku rasa. Yang satu berwarna biru, sementara biksu yang satu nya lagi memakai yang berwarna hijau pastel.
—
Pemandangan seperti ini sungguhlah langka dan baru pertama kalinya bagiku. Berpikir mengapa kedua biksu tersebut ada di kereta ini. Apakah mereka tidak berhasil menemukan kitab suci di barat? Sehingga untuk saat ini mereka sedang mencoba untuk mencarinya di Bogor? Kota dengan curah hujan tinggi yang sepertinya akan sangat tidak bersahabat dengan jenis kepala yang mereka miliki.
“Antangin dan Koyo jangan lupa!”
4 months ago · 6 notes
-
emosi-rasio liked this
-
muhammadsedky liked this
-
arditama posted this
